Ketuhanan Yesus (Lordship Of Christ)

Apa tanggapan dan pemahaman kita ketika melihat pribadi yang pernah merasakan lapar, haus, sedih, takut, lelah, tertidur, bahkan akhirnya mati? Manusia atau ilahkah dia? Lalu bagaimana jika sebaliknya, ketika melihat pribadi yang bermoral tinggi, sempurna dan tanpa cacat cela, berkuasa atas alam, penyakit, mampu membangkitkan orang mati, bahkan tidak tunduk pada kematian? Manusia atau ilahkah dia?

Tetapi bagaimana pula jika kedua realitas tersebut menyatu dalam suatu pribadi manusia? Ketika rapuh dan lemah menyatu dengan yang hebat dan tanpa kelemahan! Apakah ia sosok manusia atau ilah? Jangan-jangan kita sendiripun mulai bingung untuk membayangkan dan memberikan penilaian atasnya.

Nampaknya kondisi seperti itulah yang dialami oleh masyarakat Yahudi pada masa Yesus Kristus hidup. Mereka mencoba untuk memahami siapa kira-kira Yesus itu. Manusia yang pada satu sisi mempunyai kerapuhan dan kelemahan, tetapi pada sisi lainnya begitu berkuasa dan tanpa cacat cela.

Kondisi ini Nampak dalam dialog antara Yesus dengan para murid dalam Matius 16:13-16 yang mengatakan sebagai berikut:

(13) Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" (14) Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." (15) Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (16) Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Refleksi kebingungan tersebut nampak dengan munculnya begitu banyak pendapat, khususnya ketika mereka mencoba memahami-Nya. Ada yang menyamakannya dengan pribadi-pribadi  Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau Salah satu nabi.

Persepsi sebagai Yohanes Pembaptis muncul, bisa saja karena masyarakat melihat betapa kerasnya Ia mengecam dosa, khususnya yang ditujukan pada pemimpin agama (Matius 23). Bukankah Yohanes Pembaptis adalah seorang yang keras dalam mengecam dosa (Luk. 3:3-1), khususnya dosa moral yang dilakukan oleh Raja Herodes (Mark.6:14-20).

Melihat begitu banyaknya mujizat yang dilakukan seperti, orang buta melihat (Yoh 8), orang mati dibangkitkan (Luk. 7:11-17), memberi makan lima ribu orang (Yoh. 6:1-14), bisa saja menimbulkan pemahaman bahwa Ia adalah Elia. Bukankah Elia seorang Nabi yang banyak melakukan dengan mujizat.

Beberapa pengalaman tangisan-Nya, ketika kematian Lazarus (Yoh.11:33-35), juga terhadap Yerusalem karena menolak-Nya (Mat.23:37-39), bisa saja menimbulkan pemahaman bahwa Ia adalah Yeremia. Bukankah Yeremia dikenal sebagai Nabi yang banyak menangisi umat Allah, dan dikenal sebagai Nabi Ratapan dalam Perjanjian Lama?

Dalam keadaan yang serba sumir ini, Petrus memberikan suatu penyataan yang proporsional tentang siapa Yesus. Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah yang Hidup. Artinya, Yesus bukanlah salah satu dari yang mereka sangkakan. Ia adalah Mesias yang dijanjikan dalam Peranjian Lama, dan Ia juga adalah Allah yang menjadi manusia.

 

ALKITAB

Alkitab secara gamblang menyatakan bahwa Ia adalah Tuhan juga sekaligus manusia. Yesus adalah Tuhan dan ini bisa Nampak dalam beberapa fakta yang Alkitab ungkapkan antara lain:

Pertama, ajaran-Nya yang bersifat egosentris. Hal ini nampak di dalam Injil Yohanes dengan ungkapan 'Aku inilah' Ia menyatakan bahwa: “Akulah roti hidup” (Yoh.6:35); “Akulah pintu” (Yoh.10:7); “Akulah gembala yang baik” (Yoh.10:10); “Akulah “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh.11:25); “Akulah jalan kebenaran dan hidup” (Yoh.14:6); “Akulah pokok anggur” (Yoh.15:1). Menariknya Alkitab menyatakan juga bahwa baik Taurat, kitab para Nabi, dan juga Mazmur mengacu kepada-Nya (Yohanes 8:56; 5:39) dan  juga menuliskan tentang Dia (Lukas 24:27,44), sehinga Dialah pusat segalanya (Yohanes 12:32) dan juga sosok yang dinanti-nantikan (Lukas 10:23-24) bangsa Israel.

Kedua, Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yohanes 20:26-29). Hal ini Nampak dalam pernyataan-Nya bahwa mengenal-Nya sama dengan mengenal Bapa (Yohanes 8:19; 14:7); melihat-Nya sama dengan melihat Bapa (Yohanes 12:45; 14:9); percaya pada-Nya sama dengan percaya Allah (Yohanes 12:44; 14:1); menerima-Nya sama dengan menerima Allah (Markus 9:37); membenci Yesus sama dengan membenci Allah (Yohanes 15:23); Memuliakan Yesus sama dengan memuliakan Allah (Yohanes 5:23).

Ketiga, Terdapat kebenaran secara implisit dalam pernyataan-Nya bahwa Ia tidak berdosa (Yohanes 8:46; Markus 14:60-64; Yohanes 6:38; 16:28; 10:30, dengan mengabaikan bagian tertentu di Alkitab).

Hal ini didukung juga oleh pengakuan para malaikat (Lukas 1:32-35), dan murid-murid (Matius 16:16; Yohanes 20:28; Yohanes 1:49), bahkan roh jahatpun (Markus 1:24; Lukas 8:28; Matius 4:3; kisah Rasul 16:16-18) mengakui-Nya sebagai Yang Kudus dari Allah. Semua manusia sudah berdosa, tetapi melihat penyataan Alkitab ini, Nampak bahwa Yesus tidak berdosa. Hanya Allah yang tidak berdosa dan tidak dapat tercemari dosa.

Keempat, megacu kepada pekerjaan yang dilakukan Yesus dimana Yesus melakukan jenis pekerjaan yang hanya mampu dilakukan oleh Allah sendiri. Yaitu, Yesus mengampuni dosa (Markus 2:1-12); memberi hidup dimana terpisah dari-Nya berarti mati! (Yohanes 15:6); Ia juga mencipta alam semesta (Ibrani 1:10; Yohanes 1:3; Kolose 1:16); mengampuni dosa (Mazmur 2:5-10; Lukas 7:48); menghukum orang (II Timotius 4:1; Yohanes 5:22,25); bahkan mukjizat-Nya menunjukkan bahwa Ia adalah Allah (Yoh.20:19-21)

Kelima, Alkitab mengungkapkan bagaimana sifat-sifat  yang dimiliki Yesus yang adalah Kristus sama dengan yang dimiliki Allah. Bukankah Alkitab mengungkapkan bahwa Yesus mahakuasa (Matius 28:18; Yohanes 17:2; Efesus 1:20-22; Wahyu 1:10; Ibrani 2:4); mahatahu (Yohanes 4:16-19; 2:24-25; 6:64; 1:48; 13:1; 16:30; 21:17;  Markus 2:8; Lukas 5:22; 22:10-12; 5:4-6; Kolose 2:3; bandingkan juga II Tawarikh 6:30; dengan Yeremia 17:10); maha hadir khususnya dalam orang-orang percaya (Matius 18:20; 28:20; Yohanes 14:20; II Korintus 13:5); kekal (Yohanes 1:1; 8:58; I Yohanes 1:1; Mikha 5:1; Kolose 1:17; Yesaya 9:5; Wahyu 22:13); dan tidak berubah (Ibrani 13:8; 1:12)

Dengan fakta-fakta yang didasarkan pada ajaran, sebutan, pekerjaan dan juga sifat-sifat yang ada pada Yesus, dapatlah disimpulkan bahwa Yesus adalah Allah.

 

IMPLIKASI

Yesus adalah Tuhan, berkuasa dan pencipta segala yang ada di alam ini. Konsekuensinya Ia juga berkuasa atas segala ciptaan. jika demikian maka seharusnya Iapun berkuasa dan menjadi tuan atas hidup manusia.

Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) lahir dengan filosofi keTuhanan Yesus dan sangat menekankan keTuhanan Yesus.

Apakah Filosofi keTuhanan Yesus itu ? Filosofi ke Tuhanan Yesus adalah : filosofi yang menanamkan dan mengajarkan bahwa Yesus adalah pusat kehidupan, menjadi Tuhan di dalam hidup setiap manusia.

Jemaat bukanlah sekelompok orang yang berkumpul tanpa tujuan, tetapi suatu komunitas yang menyatakan dan menonjolkan Kristus. Atau dengan kata lain, gereja perlu menjadi alternate society (masyarakat alternatif).

alternate society adalah komunitas yang memiliki citra dan nilai-nilai moral yang berbeda dibanding masyarakat umum di sekitarnya. Komunitas yang mampu menjabarkan nilai Kerajaan Allah, dimana Yesus sebagai raja, sehingga melihat gereja berarti melihat miniaturnya Allah.

Dunia membutuhkan suatu alternative, khususnya menyangkut tatanan nilai dan moral. Dimana bukan kekerasan, kejahatan, penipuan, pemberontakan, imoralitas yang menjadi dominan. Sebaliknya kasih, sukacita, lemah lembut, penundukan diri, penguasaan diri itulah yang menjadi dominan.

Bosan dengan realita ini, masyarakat sebenarnya mendambakan suatu alternatif, masyarakat dengan nilai yang berbeda dengan nilai-nilai yang biasa dilihat dan dirasakan, yang memiliki kuasa untuk mengupayakan perubahan.

Mengubah dunia berarti mengubah masyarakat. Mengubah masyarakat berarti menyediakan dan memberikan teladan atau Model. Nampaknya gereja perlu tampil sebagai teladan.

 

GEREJA DAN KETUHANAN KRISTUS

Menjadikan jemaat sebagai suatu teladan atau masyarakat alternatif, bukanlah usaha ringan dan tidaklah sekejap atau muncul tiba-tiba. Butuh perencanaan dan usaha keras. Orang-orang yang mengikatkan diri perlu diajar dan dibina akan nilai-nilai kerajaan ini.

Melalui usaha ini, diharapkan suatu saat masyarakat umum akan melihat miniatur Kerajaan Allah. Bahkan menjadi efek bola salju yang menggelinding semakin besar, dari sesuatu yang kecil, sehingga memiliki dampak dan pengaruh yang semakin luas pada semua masyarakat.

Itu sebabnya Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) sangat menekankan keTuhanan Yesus. Suatu usaha untuk menanamkan dan mengajarkan bahwa Yesus sebagai pusat, menjadi Tuhan di dalam hidup.

Jika Ia Tuan berarti nilai-nilai dari-Nya harus dijabarkan. Secara mikro atau pribadi, Ia adalah Tuan atas setiap pribadi. Secara  makro Ia adalah Tuan atas jemaat karena Yesus juga adalah kepala gereja. Implikasinya berarti nilai-nilai-Nya, Buah-buah Roh harus terlihat dan dijabarkan melalui pribadi dan juga jemaat lokal.

Dalam tingkat mikro atau pribadi, nampaknya cita-cita, karier, studi, masa depan, pasangan hidup dan keluarga harus diletakkan dalam kerangka ini.

Berarti dalam mengerjakan studi, karir harus dilakukan dengan sekuat tenaga, serius karena ditujukan bagi Tuhan. Bukan sebaliknya seolah menempatkan Tuhan sebagai penanggung jawab keberhasilan kita, jadi biar Tuhan yang bekerja untuk kita. Tanggung jawab itu tetap pada kita meskipun janji keberhasilan itu diberikan Tuhan.

Mencari pasangan hidup haruslah yang seiman, masa depan harus diarahkan dalam kepentingan-Nya dan bukan kepentingan sendiri, mengelola talenta yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab.

KeTuhanan Yesus bukanlah suatu teori yang abstrak dan tanpa penjabaran. Sebaliknya, KeTuhanan Yesus perlu diaplikasikan dalam tindakan praktis, bisa dilihat dan dirasakan dalam jemaat lokal.

Mulailah mempraktekkannya di dalam bertindak dan bersikap, baik dalam pelayanan, ibadah, (memuji, berdoa) maupun bekerja dalam keTuhanan Kristus. Harapkan orang-orng disekitar kita tercelik dengan kesaksian hidup yang dilandaskan pada Ke-Tuhanan Kristus.

Ketika hendak beribadah, sudahkah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Hadir sebelum ibadah dimulai ataukah  terlambat?

Ketika memberikan sesuatu bagi Tuhan, apakah itu dalam bentuk uang, tenaga, pemikiran, usaha, sudahkah memberikan yang terbaik? Ataukah semua diberikan dengan mentalitas “hanya sekedar” atau “daripada tidak”?. Ketika melakukan semuanya itu, apakah dengan motifasi membangun jemaat ataukah menuntut sesuatu bagi diri sendiri?

Semua yang dilakukan bukanlah ditujukan bagi manusia, suatu denominasi, bagi seorang pendeta. Tetapi Semua dilakukan hanya terfokus pada Dia yang telah membeli hidup kita sehingga Ia berhak menjadi Tuan atas kita.

 

Read 4693 times