Melakukan Yang Terbaik (Spirit Of Excellence)

Master pieces atau maha karya adalah suatu istilah yang ditujukan pada hasil karya yang dihasilkan oleh seseorang. Ketika kejeniusan, pengalaman, keahlian dan kreatifitas  seseorang tersebut dipadukan untuk membuat suatu karya, maka hadirlah suatu karya agung atau master pieces. Bisa dikatakan master piece merupakan refleksi dan miniatur dari kebesaran sang maestro pembuatnya.

Tidak banyak yang bisa disebut maha karya dan kalaupun ada hal tersebut bisa dihitung dengan jari. Hanya sedikit orang yang mampu memilikinya karena langka dan mahal.

Itu sebabnya Memiliki Maha Karya tersebut berarti berdampak terhadap harga diri pemilik. Dalam otomotif kita kenal Rollroyce; jam tangan kita kenal Rolex; jika lukisan mungkin Monalisa. Nampaknya tidak akan orang merasa malu jika memilikinya melainkan cenderung untuk memamerkannya pada umum.

Allah memiliki master piece, yaitu GerejaNya. Gereja  adalah master piece-nya Allah. Artinya, gereja merupakan refleksi dan miniatur dari Sang Maestro Agung. Melihat gereja berarti melihat secara gamblang miniatur sang maestro yaitu Allah sendiri.

Problemnya apakah gereja telah menunjukan miniatur surgawi? Sudakah gereja menyatakan nilai atau value surgawi? Waktu masyarakat melihat gereja apakah mereka terkagum atau melecehkannya?

Gereja Kristen Perjanjian Baru Masa Depan Cerah memiliki komitmen untuk mendidik jemaat. Mendidik dalam upaya menjadikan jemaat untuk mampu menjadi yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan. Menyatakan nilai dan sekaligus menjabarkan miniatur surgawi.

 

Spirit Of Excelent 

Nampaknya penting menumbuhkan Spirit of Excelent di dalam gereja, khususnya sebagai suatu gaya hidup (life style).  Gereja merupakan miniatur surgawi dan sekaligus miniaturnya Allah, suatu master piece dari Sang Maestro yang seharusnya membuat perasaan Allah bangga ketika  menampilkan atau mempertontonkannya.

Gereja yang ditebus melalui karyaNya yang agung dan excellent sehingga sudah seharusnya Gereja menyatakan kemuliaan dari Yesus Sang Penebus. Menyatakan ssikap dan prilaku excellent bukanlah pilihan atau opsi tetapi keharusan atau keniscayaan. Memuliakan nama-Nya berarti mejadikan hidup orang percaya atau jemaat sebagai miniatur Kristus.

Spirit of excelent bukan sekedar penampilan yang dapat dilihat oleh manusia, juga bukan sekedar niat dalam hati dan pikiran manusia, tetapi suatu keutuhan yang lahir dari sikap hati, pikiran, kata-kata dan tindakan yang bersumber pada roh yang telah diperbaharui.

Ini merupakan suatu tindakan yang lebih  dari biasa. Kebiasaan manusia umumnya adalah cenderung melakukan segala sesuatu setengah hati. Spirit of excelent bukan suatu tindakan yang lahir dari tindakan setengah hati atau mediocre spirit.

Perbedaan antara air panas dengan mendidih sebenarnya hanya satu derajat. Yaitu satu derajat yang melewati titik didih air. Meskipun demikian satu derajat itu sangatlah menentukan dan membedakan antara air yang panas dan air yang mendidih itulah kualitas.

Lalu bagaimana implikasi praktisnya? Bisa dikatakan bahwa spirit of excelent merupakan suatu perilaku atau tindakan:

Pertama, bekerja beyond personal duties.  Artinya, dalam melakukan sesuatu tidak hanya berdasarkan tanggung jawab yang diterimanya atau melakukan pekerjaan semata, tetapi dibarengi juga dengan sikap memberian kualitas yang terbaik.

Paulus mampu memberi teladan dalam mengerjakan dan juga menjabarkan panggilannya secara  beyond personal duties.  Ia mengatakan telah menyelesaikan pertandingan, bukan sebagai pecundang tetapi sebagai pemenang. Dalam 2 Timotius 4:6-8 diungkapkan demikian

(6) Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. (7) Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (8) Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Mungkin banyak orang mengerjakan sesuatu sampai selesai, tetapi hanya sedikit orang yang melakukan sesuatu, bukan hanya untuk menyelesaikannya, tetapi juga menuntaskan secara excellent dan maksimal.

Kedua, Melakukan sesuatu di atas standar dunia yang dunia lakukan (beyond the standard of the world), tetapi menurut standar Allah (God’s standard).

Standart dunia menawarkan kemudahan dan juga kompromi. Nilai ini cenderung diminati dan dipegang karena umumnya manusia cenderung mengindari  kesulitan, mencari kemudahan dan kompromi.

Kehidupan Daniel nampaknya bisa dijadikan teladan, bagaimana spirit of excellent dijabarkan. Setia  pada Hukum Allah adalah pilihannya, meskipun itu berarti beresiko.

Ia  memiliki sikap berani melawan arus. Sementara para petinggi lainnya hidup kompromi, Daniel berkomitmen setia mengarahkan hidupnya bersikap excellent, tanpa kompromi, sehingga mampu hidup tanpa cacat.

Alkitab menyatakan dalam Daniel 6:4-5 demikian:

(4) Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya. (5) Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.

Kelalaian dan kesalahan dalam hidup, nampaknya bisa dihindari dengan setia pada pola hidup yang excellent.

Ketiga, melakukan sesuatu melampaui sesuatu yang dianggap menarik dan menyukakan hati (beyond our personal interests and rights) dan tidak jarang menuntut pengorbanan diri atau self-sacrifice.

Manusia cenderung melakukan sesuatu dengan baik ketika hal tersebut disenanginya. Umumnya mereka akan menghindari melakukan sesuatu, jika hal tersebut tidak disukainya. Hal ini bisa dipahami  dan sangat umum.

Pemahaman spirit of excellent sebaliknya. Disenangi atau tidak, seorang percaya dituntut untuk melakukan sesuatu dengan segenap hati, pikiran dan kekuatannya.

Alkitab memerintahkan manusia untuk mengasihi Allah dengan seutuhnya, seperti nampak dalam Matius 22:37-39 yang menyatakan

(37) Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Perintah ini menuntut untuk mengasihi dan melakukan sesuatu, apakah hal tersebut d senangi atau tidak. Yesus mengajarkan umpamanya dalam Matius 5:39-44 dengan menyatakan sebagai berikut:

(39) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (40) Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.(41) Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (42) Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. (43) Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. (44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Tindakan melakukan dengan excelent tersebut, tidaklah dilandaskan sikap menyenangi atau tidak, mau atau tidak.

Pauluspun juga menunjukkan bahwa diperlukan prioritas untuk melakukan pelayanannya. Pelayanannya  dilakukan di atas kepentingan pribadi, tujuannya supaya fokus pelayanan dan pemberitaan Injil tidak terganggu.

Baginya pelayanan adalah perjuangan, kesetiaan dan kemenangan. Bersikap  excellent bukan masalah menyelesakan pertandingan semata, tetapi setia berjuang dan mengakhiri dengan sikap pemenang (2 Timotius 4:7). Bukanlah menyukai atau tidak tugas yang diemban,  tetapi melakukannya dengan maksimal, setia sampai mendapat mahkota, walau mungkin dengan penderitaan.

Hal ini bisa berarti juga Memberikan yang terbaik berarti memberikan sesuatu yang kudus dan berkenan kepada Tuhan (Roma 12.1-2). Memberikan yang terbaik kepada Tuhan melalui kehidupan kristiani yang bertanggungjawab.

Mempersembahkan hidup bukan saja memberikan apa yang kita miliki, tetapi memberikan diri kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan pada Allah.

 

Spirit of Excellence dan Gereja

Panggilan untuk menjadi excelent bukan saja berlaku secara pribadi tetapi juga kolektif. Konsekuensinya ketika mengacu kepada hal yang bersifat kolektif maka hal ini harus menjadi gaya hidup dalam konteks gereja.

Seperti diungkap di atas, Gereja Kristen Perjanjian Baru Masa Depan Cerah memiliki komitmen untuk mendidik jemaat menyatakan sikap ini. Siapapun yang terikat dan menjadi bagian dari jemaat GKPB, berarti siap memiliki filosofi spirit of excelent.

Tidak ada Spirit of Mediocrity atau perilaku yang tertuju kepada sikap asal jadi, asal dilakukan, yang penting ada, mentalitas lumayan atau merasa cepat puas. Semua bertentangan dengan filosofi spirit of excellent.

Penting memiliki sikap Excellent in service. Artinya ketika melayani kepada sesama jemaat lakukan yang terbaik.

Di masyarakat umum kita mengenal istilah Verry Important  Person atau VIP. Siapa yang tidak senang diperlakukan sebagai orang yang dianggap penting dan semua manusia mendambakannya. Mengapa? Karena mereka akan dilayani secara khusus, dibedakan dari yang lainnya serta dihormati, dilayani dengan pelayanan nomor satu.

Spirit of excelent berarti melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya bagi Tuhan. Adapun penjabarannya, secara pribadi, kita melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, bertanggungjawab dan sungguh-sungguh. Baik dalam pekerjaan, studi, pelayanan, keluarga. Sedangkan dalam konteks korporasi, bisa dijabarkan dengan melayani kepada sesama saudara. Melayani dengan sepenuh hati, penuh dedikasi dan tanpa pamrih. Bukankah perintah Alkitab adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22:39)

Dalam beribadah miliki sikap Excellent worship. Jadikan ibadah sebagai sesuatu yang serius dan bukan asal berjalan apalagi asal jadi. Pahami bahwa itu dilakukan dan ditujukan bagi Allah.

Jika seseorang bisa diperlakukan sebagai verry important person, bagaimana dengan Allah? Seharusnya bisa bahkan seharusnya lebih dari VIP. Alkitab menyatakan supaya kita mengasihi Allah dengan segala yang ada pada kita.

(36) "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (37) Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Jadikan ibadah sebagai waktu yang khusus, waktu perayaan atau celebration, dimana kita bisa menyembah Dia dengan segenap hati, kekuatan dan kekuatan kita.

Jangan terlambat dan hadir sebelum ibadah dimulai, berpakaian rapih, hadir dengan hati terbuka dan hati yang penuh harap (expectation) kuasa Allah bekerja, itulah sikap terpuji di dalam beribadah.

Spirit of excelent juga bisa dijabarkan dengan memberikan yang terbaik atau Excellent sacrifice. Allah telah berkurban dan memberikan yang terbaik, layak bagi kita untuk memberikan yang terbaik juga bagiNya.

Ketika seorang pengemis menghampiri kita, bisa saja kita memberikan sesuatu sekedarnya. Bagaimana kepada Allah, apakah kita memperlakukan-Nya seperti seorang pengemis?

Excelent service memberikan segala sesuatu kepada Allah dan sesama, baik waktu, perhatian, tenaga, uang dan sebagainya dengan kualitas yang terbaik. Sedangkan dasarnya dilakukan bukan didasari motif tertentu, tetapi karena kasih karena Allah telah memberikan yang terbaik.

Memberi adalah hak khusus (privilage) yang diberikan kepada umat-Nya. Allah tidak miskin dan tidak menjadi miskin walaupun kita tidak memberikan uang, waktu, perhatian tenaga dan lainnya.

Ingat! Kita tidak akan menjadi lebih kaya karena menahan berkat dan tidak memberikannya kepada Tuhan, sebaliknya kitapun tidak akan menjadi miskin karena memberikan sesuatu kepada-Nya. Justeru melalui memberi membuka pintu berkat  dan memampukan seseorang dilepaskan dari segala ikatan. Allah tidak pernah berhutang, bahkan Ia akan memberkati umat-Nya secara berlimpah.

 

Read 3010 times