Thursday, 22 November 2012 03:55

Kehidupan Kekristenan dalam Gereja-Sel (1)

Rate this item
(5 votes)

kehidupanorangkristenclikDalam buku "Pelayanan dalam Gereja" telah dibahas perlunya kelompok-kelompok sel sebagai wadah dari pelayanan kepada jiwa-jiwa. Penting sekali untuk kita mengerti bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara: "Gereja sel" dengan "Gereja-yang- mempunyai-kelompok-sel." Boleh dikatakan, perbedaannya adalah sejauh langit dan bumi. Dan yang kita akan bahas di sini yaitu gereja-sel.

"Gereja-yang-memiliki-kelompok-sel" sebenarnya masih gereja tradisional. Gereja ini hanya menjadikan kelompok sel sebagai salah satu kegiatan atau salah satu departemen saja. Ada juga gereja yang menyelenggarakan kelompok-sel sebagai wadah untuk persekutuan atau pengakraban. Kelompok-sel hanya melakukan salah satu fungsi gereja. Seperti hal-nya dengan departemen Sekolah Minggu, departemen Penginjilan, ataupun departemen musik, maka departemen kelompok sel inipun tidak ditangani langsung oleh gembala sidang. Jemaat dianjurkan untuk mengikuti kelompok sel, namun jika mereka tidak bisa mengikuti, tidak apa-apa. Dalam gereja ini, yang penting jemaat tetap mengikuti ibadah raya pada hari Minggu.

Dalam gereja sel, kegiatan utama adalah kegiatan di sekitar kelompok sel. Ibadah raya pada hari Minggu adalah tempat di mana kelompok-kelompok sel tersebut berkumpul untuk mengadakan perayaan. Departemen-departemen yang tidak menunjang kelompok sel haruslah dihilangkan, antara lain Departemen Kebaktian Kaum Muda, Departemen Kebaktian Remaja, Departemen Kebaktian Kaum Ibu, Departemen Doa, dan lain-lain. Semuanya haruslah dilebur ke dalam kelompok sel. Jika masih ada departemen-departemen ataupun komisi-komisi yang tidak sejalan dengan kelompok sel, maka kelompok sel tidaklah akan dapat berfungsi dengan baik.

Jika kita ingin menyelenggarakan gereja sel, maka kita harus benar-benar meninggalkan pola gereja yang tradisional. Kita harus menghapuskan semua kegiatan yang secara tradisional dilakukan oleh gereja namun sebenarnya kegiatan tersebut hanya membebani gereja. Akibatnya kegiatan-kegiatan yang kurang berguna ini, gereja kurang melaksanakan panggilan utama dari gereja.

Dalam gereja sel hanya ada dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan kelompok sel, serta (2) Ibadah Perayaan. Semua departemen, komisi, dan kepanitiaan haruslah mendukung kedua kegiatan di atas. Semua departemen yang tidak ada hubungan dengan kedua kegiatan tadi haruslah dihapuskan. Terlalu banyaknya departemen, komisi ataupun kepanitiaan, hanya membuat gereja "nampak sibuk". Namun kesibukan-kesibukan ini bukan berarti menunjukkan kehidupan gereja yang sebenarnya. Kehidupan gereja yang sesungguhnya tidaklah ditunjukkan dengan banyaknya kegiatan. Gereja haruslah melakukan kegiatan yang benar-benar sesuai dengan panggilannya. Jika ada kegiatan-kegiatan yang tidak ada hubungan dengan panggilan gereja, lebih baik dihilangkan saja. Malahan kegiatan-kegiatan yang tidak berguna itu bisa menyelewengkan gereja dari panggilannya yang utama.

Dalam gereja sel, jangan terlalu banyak kegiatan insidental, seperti: KKR, Ulang Tahun Gereja, Pagelaran, Malam Puji-Pujian, Fashion Show, Putar Film dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut akan membuat perhatian dan tenaga terkonsentrasikan ke hal-hal insidental tadi. Akibatnya kehidupan dalam kelompok sel akan kurang berkembang karena tersaingi oleh kegiatan-kegiatan tadi.

Kelompok sel itu sendiri adalah gereja yang sesungguhnya. Setiap jemaat harus terlibat dalam kelompok sel. Jika ada orang yang hanya ikut ibadah raya dan tidak mengikuti kelompok sel, berarti dia tidaklah bergereja. Seandainya ada seorang anggota yang harus memilih: "Apakah dia harus mengikuti kebaktian saja ataukah kelompok sel saja?", maka dia haruslah memilih untuk hanya mengikuti kelompok sel. Karena dalam kelompok sel, seluruh panggilan gereja bisa dilaksanakan. Juga, dalam kelompok-sel, semua fungsi gereja bisa diterapkan. Cukup dengan mengikuti kelompok-sel saja, kerohanian kita bisa bertumbuh secara normal.

Terpaksa Menjadi Gereja-Sel

Di tempat dimana kekristenan diijinkan, gereja banyak melakukan kegiatan yang kurang esensial. Tapi di negara yang pemerintahnya melarang kekristenan, maka mau tidak mau gereja hanya menyelenggarakan hal yang memang betul-betul diperlukan. Di negara RRC, misalnya, karena kekristen dilarang, tidak banyak kegiatan gerejawi yang dilakukan. Gereja disana tidak memiliki gedung gereja, tidak ada koor, tamborin, usher ataupun petugas yang lain. Di RRC, gereja terpaksa diselenggarakan dalam kelompok-kelompok sel. Kehidupan gereja dalam kelompok-sel inilah yang harus tetap dipertahankan. Hal lain boleh dihilangkan tapi itu bukan berarti menghilangkan kekristenan.

Setiap Saat Adalah Penting

    Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kisah 2:47)

    sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. (Zakharia 4:10)

Dalam gereja tradisional, ujung tombak penginjilan yang utama adalah kebaktian dan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani). Usaha penjangkauan yang utama dilakukan jemaat yaitu: mengundang orang-orang untuk kebaktian atau KKR. Dengan usaha ini, diharapkan orang yang dibawa tadi merasa tertarik dengan suasana kebaktian dan tersentuh oleh firman Tuhan dalam kebaktian tadi, lalu bergabung dengan gereja. Kunci keberhasilan sangat tergantung kepada gembala sidang yang berkotbah dan juga para pembawa acara dalam kebaktian.

Dalam gereja-sel, pertobatan bisa terjadi setiap hari. "Kegiatan" rohani dilakukan setiap hari, tidak hanya pada saat kebaktian hari Minggu atau KKR saja. Setiap anggota jemaat dimobilisasi untuk melakukan penjangkauan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pertobatan bisa terjadi dimana saja, dan bukan hanya terbatas di gedung gereja. Setiap segi kehidupan seorang kristen adalah penting untuk penjangkauan jiwa.

Kehidupan sehari-hari dari jemaat di rumah, sekolah, tempat kerja ataupun dengan tetangga adalah kehidupan yang menentukan keberhasilan gereja tersebut. Keberhasilan gereja bukan hanya ditentukan oleh acara-acara yang dilaksanakan di gedung gereja. Justru kehidupan sehari-hari dengan orang-orang di sekitar kita inilah yang sangat menentukan. Hal ini nampaknya sepele, tapi justru itulah yang ditekankan oleh Alkitab.

Kehidupan sehari-hari Yang menjadi Saksi

Seorang anak kristen yang keluarganya belum bertobat, harus menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai kesaksian yang hidup bagi keluarganya. Seorang anak Kristen janganlah sering-sering keluar rumah. Dengan sering keluar rumah maka ayah, ibu dan saudaranya tidak bisa merasakan buah hasil pertobatan dari anak tersebut. Yang paling utama, anak tersebut harus membuktikan buah pertobatannya dalam lingkungan yang paling dekat dengan dia yaitu keluarganya. Kehidupan dia janganlah hanya di sekitar gedung gereja saja, justru dia harus mengajak teman-teman gerejanya untuk berkenalan dengan keluarganya.

Sebagai seorang anak kristen, dia harus tetap hormat kepada orang tuanya. Bahkan harus lebih lagi, karena memang Alkitab juga mengharuskan setiap anak supaya hormat kepada orangtua-nya. Hal ini berlaku juga untuk orangtua yang sudah di dalam Tuhan maupun yang belum di dalam Tuhan. Pekerjaan membantu orang tua tidak boleh diabaikan.

Memang ada kecenderungan yang salah dari anak remaja yang sudah bertobat. Setelah menjadi seorang Kristen, terlalu banyak dia mengikuti kegiatan gereja. Dengan banyaknya kegiatan ini, selain waktu dia bersama keluarga kurang, dia juga kurang banyak membantu pekerjaan di rumah. Waktu yang biasanya dipakai untuk menolong orang-tua, sekarang berkurang karena kegiatan gereja. Nah, orang tua, kakak atau adik yang melihat hal ini menjadi kurang simpati terhadap gereja dan kekristenan. Mereka berpikir, "Setelah jadi orang Kristen, kok hidupnya jadi kurang baik begini? Kalau demikian, buat apa saya jadi orang Kristen."

Malahan, karena salah pengertian tentang Firman Tuhan, ada anak remaja yang justru tambah tidak hormat terhadap orangtuanya yang belum kenal Tuhan. Mereka berpikir, dengan dimusuhi oleh orang-tua berarti mereka "menderita bagi Kristus." Padahal sebenarnya orang-tuanya tidaklah keberatan anaknya ke gereja. Permasalahannya yaitu: Mereka terlalu sering mengikuti acara gereja. Inilah yang menjadi keberatan dari para orang-tua. Akibatnya orang-tua mereka malah tidak simpati dengan gereja. Jangan-jangan, dengan hal ini orang-tua mereka yang semula mengijinkan, malahan sekarang tidak mengijinkan mereka pergi ke gereja.

Ini adalah kesalahan yang besar! Kehidupan sehari-hari kita haruslah menunjukkan kehidupan Kristus yang sebenarnya. Buah pertobatan kita harus dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Hal ini akan sangat membantu orang-orang di sekitar kita untuk mengenal Kristus. Dalam lingkungan lainpun prinsip ini harus dijalankan juga.

Kalau dia seorang anak sekolah maka kehidupan sehari-hari bersama teman-teman sekolahnya adalah penting sebagai kesaksian hidup. Dalam kehidupan di sekolah dia harus menunjukkan: Bagaimana kehidupan seorang Kristen yang benar. Dia perlu saling menolong dalam pelajaran sekolah. Dia harus menunjukkan bahwa dia tidak mau melakukan tindakan yang tidak jujur dalam ulangan atau ujian. Kehidupan sehari-hari bersama teman-teman sekolah inilah yang penting. Jangan hanya acara di gedung gereja saja yang diutamakan. Setelah dia bertobat, jangan teman-teman sekolahnya ditinggal. Teman-teman sekolah dia perlu mendapatkan contoh yang benar dari kehidupan seorang Kristen. Dia harus tetap menjadi sahabat dari teman di sekolahnya. Sampai nanti teman- temannya bisa diajak untuk ikut kelompok-sel. Kalau orang yang sudah bertobat meninggalkan teman-temannya dan bersekutu hanya dengan orang-orang Kristen yang ada di gereja, maka pengaruh dia kepada teman lamanya berkurang.

Sumber: http://www.reocities.com

Read 1096 times
Login to post comments